<bgsound loop='infinite' src='music.mp3'></bgsound> Damaris Fajar: kamu seperti bukan kamu

Tuesday, 21 May 2013

kamu seperti bukan kamu


Teman. Aku tau kamu temanku, karena dari dulu kamu memang kuanggap sebagai temanku. Kita dekat, dan kedekatan kita sudah kuanggap seperti saudara. Bukan hanya kamu, tapi mereka juga sudah seperti saudaraku sendiri. Sebagian dari kami adalah anak rantau yang mencari ilmu kehidupan. Tidak hanya untuk mencari sumber ilmu saja, tapi untuk belajar bagaimana memahami prinsip kehidupan, persaudaraan, dan bermasyarakat di tempat asing. Sungguh, kami sebenarnya mempunyai tujuan yang sama. Sayang, kamu, aku, dan kita telah terkoyak oleh gengsi yang besar.
Sungguh temanku, kita semua ini adalah sama di mata Sang Khalik. Meskipun kita berbeda, kita adalah sama derajatnya, dan akan kembali dalam bentuk yang sama. Debu tanah. Aku tidak heran dengan sikapmu, aku cenderung mengasihanimu. Ketika yang lain merasa kamu sebagai pengacau suasana, aku tidak merasa begitu. Kamu hanyalah manusia yang perlu mencurahkan isi hatinya. Namun, di saat yang tepat. Barangkali, kamu terlalu bersemangat untuk meluapkan semua yang telah kamu alami selama ini di waktu dan tempat yang salah.
Aku sebagai temanmu, entah masih kau anggap sebagai apa aku ini, salut dengan sikapmu. Berani maju, berani berusaha, berani melakukan apa yang ingin kau lakukan meskipun hasilnya belum tentu memuaskan dan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Aku iri dengan apa yang bisa kamu lakukan. Aku ingin mengadaptasai tingkah lakumu yang ini. Sudah, tapi nol. Aku masih mengusahakannya.
Kadang, kami juga meremehkanmu. Hanya ingin melihat sampai di mana pertahananmu ketika banyak orang meragukanmu. Tapi kamu masih tetap sama, temanku yang aku kenal.
Perubahan untuk menjadi yang lebih baik memang perlu, teman. Tapi karena perubahan yang ingin kamu capai ini membuatku merasa tak nyaman, kami tentu juga. Kamu ingin mencapai perubahan itu dengan mulus, tanpa hambatan. Tapi jika perubahan itu bagai pemaksaan dini, sungguh sangat disayangkan. Kami bahagia melihatmu bahagia, namun kasihan karena sepertinya dipaksakan.
Teman, kamu berubah. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri, tak seperti dulu. Kamu seperti bukan kamu, tapi seperti orang lain. Apa adanya, namun agak menipu diri sendiri. Apalah ini kamu yang sebenarnya atau bukan? Apa memang selama ini kami belum sangat mengenalmu, dan baru sekarang kami menuyadarinya? Atau memang seperti ini nyatanya saat kami mempunyai teman dan saudara yang mengalami perubahan.
Entah, temanku. Kami tak tau apa yang sudah terjadi denganmu. Kamu seperti ingin meluapkan semua yang ada di otakmu, tapi kamu takut. Seolah berada di antara kami, namun tidak jiwamu. Kamu seperti hantu, ada namun tak berjiwa. Sama seperti zombie, punya otak yang tak berfungsi. Seperti sehelai daun kering yang diombang-ambingkan oleh angin.
Mungkin, kamu akan tidak sengaja membaca ini. Sungguh, bukan maksudku untuk tidak menyampaikan secara langsung. Tapi lebih baik begini adanya, karena kamu sudah berubah. Tak lagi sama seperti yang kukenal.
Semoga kamu bahagia dengan perubahanmu. Kami selalu mendukungmu wahai teman dan saudara. 

No comments:

Post a Comment