Teman. Aku tau kamu temanku, karena
dari dulu kamu memang kuanggap sebagai temanku. Kita dekat, dan kedekatan kita
sudah kuanggap seperti saudara. Bukan hanya kamu, tapi mereka juga sudah
seperti saudaraku sendiri. Sebagian dari kami adalah anak rantau yang mencari
ilmu kehidupan. Tidak hanya untuk mencari sumber ilmu saja, tapi untuk belajar
bagaimana memahami prinsip kehidupan, persaudaraan, dan bermasyarakat di tempat
asing. Sungguh, kami sebenarnya mempunyai tujuan yang sama. Sayang, kamu, aku,
dan kita telah terkoyak oleh gengsi yang besar.
Sungguh temanku, kita semua ini
adalah sama di mata Sang Khalik. Meskipun kita berbeda, kita adalah sama
derajatnya, dan akan kembali dalam bentuk yang sama. Debu tanah. Aku tidak
heran dengan sikapmu, aku cenderung mengasihanimu. Ketika yang lain merasa kamu
sebagai pengacau suasana, aku tidak merasa begitu. Kamu hanyalah manusia yang
perlu mencurahkan isi hatinya. Namun, di saat yang tepat. Barangkali, kamu
terlalu bersemangat untuk meluapkan semua yang telah kamu alami selama ini di
waktu dan tempat yang salah.
Aku sebagai temanmu, entah masih kau
anggap sebagai apa aku ini, salut dengan sikapmu. Berani maju, berani berusaha,
berani melakukan apa yang ingin kau lakukan meskipun hasilnya belum tentu
memuaskan dan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Aku iri dengan apa yang
bisa kamu lakukan. Aku ingin mengadaptasai tingkah lakumu yang ini. Sudah, tapi
nol. Aku masih mengusahakannya.
Kadang, kami juga meremehkanmu.
Hanya ingin melihat sampai di mana pertahananmu ketika banyak orang
meragukanmu. Tapi kamu masih tetap sama, temanku yang aku kenal.
Perubahan untuk menjadi yang lebih
baik memang perlu, teman. Tapi karena perubahan yang ingin kamu capai ini
membuatku merasa tak nyaman, kami tentu juga. Kamu ingin mencapai perubahan itu
dengan mulus, tanpa hambatan. Tapi jika perubahan itu bagai pemaksaan dini,
sungguh sangat disayangkan. Kami bahagia melihatmu bahagia, namun kasihan karena
sepertinya dipaksakan.
Teman, kamu berubah. Kamu sibuk dengan
duniamu sendiri, tak seperti dulu. Kamu seperti bukan kamu, tapi seperti orang
lain. Apa adanya, namun agak menipu diri sendiri. Apalah ini kamu yang
sebenarnya atau bukan? Apa memang selama ini kami belum sangat mengenalmu, dan
baru sekarang kami menuyadarinya? Atau memang seperti ini nyatanya saat kami
mempunyai teman dan saudara yang mengalami perubahan.
Entah, temanku. Kami tak tau apa
yang sudah terjadi denganmu. Kamu seperti ingin meluapkan semua yang ada di
otakmu, tapi kamu takut. Seolah berada di antara kami, namun tidak jiwamu. Kamu
seperti hantu, ada namun tak berjiwa. Sama seperti zombie, punya otak yang tak
berfungsi. Seperti sehelai daun kering yang diombang-ambingkan oleh angin.
Mungkin, kamu akan tidak sengaja
membaca ini. Sungguh, bukan maksudku untuk tidak menyampaikan secara langsung.
Tapi lebih baik begini adanya, karena kamu sudah berubah. Tak lagi sama seperti
yang kukenal.
Semoga kamu bahagia dengan
perubahanmu. Kami selalu mendukungmu wahai teman dan saudara.
No comments:
Post a Comment