Malam ini, rintik hujan masih terdengar di luar kostan. Tercium aroma tanah basah oleh hujan yang turun dari siang hari tadi. Sudah malam dan saya masih belum makan. Iseng-iseng saya mengirim sms ke adik kost, bertanya kalau saja dia juga belum makan. Sms balasan yang saya terima memang cukup membuat saya berpikir.
"Aku sudah makan kok mbak. Ini aku mau layat. Mbak sudah makan?"
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, siapa yang meninggal kok sampai-sampai asik kost saya itu layat malam-malam begini.
"Loh, siapa yang meninggal dek? Kok malam-malam gini layat? Mau layat sama siapa?"
"Istrinya pakdhe mbak, baru dikasih tau aku. Ini sama mbak Eshia."
Saya hanya tertegun, bingung untuk membalas smsnya itu. Akhirnya saya keluar kamar dan bertanya langsung dengan adik kost.
Pakdhe itu adalah seorang pelatih gamelan di kampus saya. Sebenarnya dia sebagai asisten atau bisa dibilang pelatih kedua. Dia adalah anak dari Mbah Guno, beliau yang melatih mahasiswa mahasiswi untuk belajar mmemainkan gamelan sebagai salah satu KBM (Kelompok Bakat Minat) di kampus saya. Saya belum pernah bertemu istrinya pakdhe, tapi dari yang saya dengar, semasa hidupnya almarhum adalah seorang istri yang sangat sabar dan setia. :)
Saya memutuskan untuk ikut melayat di rumah pakdhe. Rumah beliau cukup jauh dari kost saya, oleh karenanya saya naik motor ke sana. Masih dengan gerimis dan hawa dingin kota Salatiga di malam hari. Di depan gang sempit rumah pakdhe, Eshia sudah menunggu. Saya, Eshia dan Meilana (adik kost saya). Kami bertiga ikut di KBM karawitan kampus dan merasakan apa yang pakdhe rasakan. Kehilangan.
Yusuf, anak pakdhe yang juga dalang cilik itu masih duduk di bangku SMP. Dengan mata yang masih merah dan basah, dia menyambut kami bertiga. Mbah Guno yang terlihat tegar juga menyambut kami. Jujur, saya paling tidak mengerti apa yang harus dilakukan saat melayat. Saya hanya mendengar cerita dari tamu-tamu yang datang. Cerita dari Mbah Guno dan pakdhe tentang almarhum. Dilihat dari raut wajah yang masih letih karena tidak tidur selama dua hari, pakdhe kehilangan sosok pendamping hidup yang sangat dicintainya. Yusuf di dalam tangisan seorang anak juga menunjukkan kehilangan sosok ibu yang mengasihinya.
Saya tidak habis pikir, dia masih sangat muda untuk menerima kenyataan tentang kehilangan orang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Mungkin tidak bisa dipungkiri lagi, jika saya berada di posisinya mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Mungkin lebih gila lagi.
Kehilangan ini adalah suatu kehilangan yang manusiapun tidak bisa mencegahnya. Hanya Tuhan yang tahu. Mungkin saat ini kita berada di dalam masa-masa "kiamat", karena banyak orang yang mempercayai kiamat akan segera datang. But, who knows? Hanya Tuhan yang tahu nasib kita. Kita sebagai manusia hanya bisa melakukan apa yang Tuhan inginkan dan berusaha untuk bisa menjadi lebih baik dan lebih maju lagi.
Mungkin nasib memang sudah tertuliskan, namun dalam perjalanan hidup manusia, merekapun bisa menuliskan cerita mereka. Baik dan buruk nasib manusia tergantung manusia itu sendiri yang melakukannya. Namun, kematian adalah hal yang pasti. Semua orang pasti akan mengalaminya. Dan semua orang pasti juga akan merasa kehilangan. Hati kita harus siap dan ikhlas. Siap untuk dipanggil Tuhan dan ikhlas untuk merasakan kehilangan. Kita tidak tahu kapan, namun itu pasti akan terjadi. Jadi, bersiap-siaplah dalam penantian hidupmu ini. Karena suatu saat mungkin giliran kita yang harus merasakan itu semua.
Untuk pakdhe, Yusuf dan semua keluarga besar. Semoga kalian semua ikhlas untuk mengantarkan kepergian budhe menuju rumah yang kekal. Budhe sudah tidak sakit lagi sekarang. Yang tabah dan kuat ya. Gusti Yesus mberkahi.
Monday, 17 December 2012
gold
eyes the dark open
ears the noisy appear
view doth golden
crowd aint disappear
wind oh wind storm
let it, let it be happen
hurricane in the dorm
could you see the little golden?
bright as the light
pure as the water
hard for you to tight
when the precious suddenly appear
ears the noisy appear
view doth golden
crowd aint disappear
wind oh wind storm
let it, let it be happen
hurricane in the dorm
could you see the little golden?
bright as the light
pure as the water
hard for you to tight
when the precious suddenly appear
Sunday, 16 December 2012
hardeasyou
hard to solve
when the problem so into you
hard to believe
when you got deceived
hard to remember
when your brain so blubber
easy to understand
but not with friend
easy to move on
but not with the past on
easy to create
but not with prayed
you will get a life
when you become you
when the problem so into you
hard to believe
when you got deceived
hard to remember
when your brain so blubber
easy to understand
but not with friend
easy to move on
but not with the past on
easy to create
but not with prayed
you will get a life
when you become you
Kamu berbeda, tidak kurang dan tidak lebih. :)
Sepuluh tahun tidaklah sebentar untuk mengenalmu. Setengah dari hidupku aku sangat tahu siapa dirimu. Namun setengah dari hidupku belum cukup untuk benar-benar mengenalmu. Kamu dan aku sangatlah berbeda. Kamu yang dulu dan sekarang berbeda dengan aku yang dulu dan sekarang. Mungkin memang benar hidup itu tentu tidak selamanya konstan. Banyak orang yang bilang kalau hidup itu seperti roda. Kadang di atas dan kadang di bawah. Terus berputar dan berpindah-pindah tempat. Aku dan kamu sudah berubah.
Masih teringat jelas di otakku pertama kali aku bertemu dengan sosokmu yang lugu dan berbeda dari teman sebaya yang lain. Pasti kamu tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu. Benar, bagaimana mungkin kamu tahu kalau aku berpikir tentangmu saat itu? Kita semua masih polos dan belum bisa membedakan apa dan bagaimana hal-hal rumit bisa terjadi.
Sembilan tahun dan tujuh tahun. Sangat lama dan tidak sebentar. Masih saja aku belum benar-benar mengenalmu. Ya, memang kita saling mengenal satu sama lain. Tapi tidak dengan pribadi kita. Mereka hanya sekedar tahu saja apa yang kita bicarakan, apa yang kita ketahui dan saling memberikan informasi. Begitu saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
Aneh memang. Tapi kamu memang benar-benar berbeda. Jika orang bertanya padaku apa yang membuatmu berbeda, aku akan menjawab bahwa kamu diciptakan Tuhan untuk menjadi seorang kamu, bukan orang lain. Karena kamu memilih untuk berbeda dari orang lain yang kadang menurutku sama. Sama dalam hal pemikiran dan kehidupan.
Apa aku sok tahu dengan menjawab seperti itu? Sedikit sok tahu memang, karena aku belum benar-benar mengenalmu. Terakhir kali aku bertemu denganmu, aku memang merasa aku belum benar-benar mengenalmu. Dan sungguh, kamu itu memang berbeda.
Janganlah berhenti untuk menjadi berbeda. Tetaplah menjadi kamu, apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih.
Friday, 14 December 2012
Pantai Pok Tunggal
Yak saudara-saudari, sudah cukup sampai di sini penat gara-gara tugasnya. Mari kemari lihat laporan saya yang baru saja melakukan "piknik" ke salah satu pantai yang ada di Gunung Kidul, Jogja. Pantai ini, namanya Pok Tunggal. Kenapa? Karena di pantai ini ada ikon sebuah pohon yang tumbuh sendirian (kasian ya..) di pinggir pantai. Katanya gitu sih, kemaren gak nanya sama penduduk aslinya situ.. :(
Dilihat dari gambar di atas, pantainya masih bagus, pasirnya putih, masih sepi juga. Soalnya, pantai ini tergolong tempat wisata yang baru saja dibuka untuk umum. Karena akses jalannya yang tergolong masih cukup kurang. Kalau dari arah Pantai Indrayanti yang ramai pengunjung itu, kita bisa jalan terus sampai nemu papan nama di kanan jalan.
Sayangnya, kemarin saya dan teman-teman yang berombongan pake 2 mobil itu sangatlah kurang beruntung. Sampai di Pantai Pok Tunggal, mendung tiba2 datang dan hujan gerimis berjatuhan. Sedih sih, tapi ya mau gimana lagi. Sudah terlanjur sampai di pantai, yaaa kita foto2 aja sama nyebur ke pantainya..

Daripada penasaran, yuk mari biarlah foto yang berbicara..
Nah, habis dari Pantai Pok Tunggal kita nglanjutin perjalanan kita demi mencari sesuap nasi. #halah. Kita lanjut ke Malioboro nih. Tapi kita nongkrong di kilometer 0. Pasti kalian sudah tahu banget deh letaknya di mana. he he he he.. :d
Kita dapet bonus nih di kilometer 0. Macam di luar negri sana, ini ada sekumpulan (tepatnya 3 bentuk) orang yang merias wajahnya dengan bentuk setan nih. Kreatif ya.. Kita nyumbang seikhlasnya aja ni biar bisa foto2 sama mereka.. hihiihi... ^^
Terus nih, kita makan malamnya di angkringan tugu. Lumayan lah buat ngganjal perut yang udah keroncongan begitu. Saya habis 12.000 (nasi jinggo, nasi sambal teri, es teh, ceker 3, sate usus 2). Banyak juga buat yang suka makan.. hahhaha..

| Pantai Pok Tunggal (nah, itu pohon yang saya bilang tadi teman) |
![]() |
| Papan nama sebelah kanan jalan kalo dari Pantai Indrayanti. |
Daripada penasaran, yuk mari biarlah foto yang berbicara..
![]() |
| para cewek-cewek yang tak gentar membawa payung.. |
![]() |
| admin nih.. ^^ |
![]() |
| boyband gagal total.. -_- |
| treteteteteeeeett,. udah hujan, nyebur, anginnya.. brrrrr... |
Nah, habis dari Pantai Pok Tunggal kita nglanjutin perjalanan kita demi mencari sesuap nasi. #halah. Kita lanjut ke Malioboro nih. Tapi kita nongkrong di kilometer 0. Pasti kalian sudah tahu banget deh letaknya di mana. he he he he.. :d
| kilometer 0 (0 km) |
Kita dapet bonus nih di kilometer 0. Macam di luar negri sana, ini ada sekumpulan (tepatnya 3 bentuk) orang yang merias wajahnya dengan bentuk setan nih. Kreatif ya.. Kita nyumbang seikhlasnya aja ni biar bisa foto2 sama mereka.. hihiihi... ^^
| dari kiri: nenek sihir jadi2an, admin, angel, mas kunti suster gak ngesot, mas hantu dalang, berry, laras, frennandy. |
Terus nih, kita makan malamnya di angkringan tugu. Lumayan lah buat ngganjal perut yang udah keroncongan begitu. Saya habis 12.000 (nasi jinggo, nasi sambal teri, es teh, ceker 3, sate usus 2). Banyak juga buat yang suka makan.. hahhaha..
Itu dia jalan2 penghilang penat di akhir minggu ini. Semoga aja masih ada jalan2 lain secepatnya. Amin..
Wednesday, 12 December 2012
Sudah beberapa hari ini aku galau saudara-saudari. Sebenarnya kalau dibilang galau ya gak juga sih, bingung lebih tepatnya. Hmmm, tapi galau juga boleh ding. Eh, tapi.. Ya gitu deh pokoknya. Jadi begini cerita lengkapnya.
Saya ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang lagi mencoba buat skripsi alias thesis dikarenakan saya pengen lulus!! Nah, masalahnya adalah, saya itu :
1. (pe) malas
2. kalau sudah malas, gak mungkin buka folder itu skripsi thesis
3. bingung (an)
Nah, kebingungan saya ini bermula ketika saya harus ganti topik yang saat itu masih dalam bentuk proposal. Dan, kegalauan itu muncul ketika dosen pembimbing saya yang baik hati itu harus dengan segera meninggalkan fakultas tercinta untuk hengkang selamanya gak tau ke mana dikarenakan oleh kebijakan fakultas. (damn!)
Bukan itu saja, proposal saya nggantung (untung gak mati) dan saya otomatis ganti dosbing. Nah, dosbing saya yang baru ini katanya orangnya enak banget, lancar dah pokoknya kalo sama Ibu satu ini. Tapi, karena saya udah males duluan gara-gara ganti topik dan lain sebagainya, saya jadi males ketemu sama dosbing baru saya ini. Dulu sebelum lebaran udah ketemu sama dia, udah gitu doang sih. Habis itu dikarenakan saya ambil PPL (Teaching Practicum), sayapun merajalela malasnya. Alasan sih banyak buat gak ngerjain. Tapi emang pada dasarnya sih ternyata saya kewalahan sendiri di semester ini.
Nah, bulan lalu saya ditegur sama seorang temen, "Thesismu gimana Ris?". Dalam hati aku menangis darah!!! Kujawab aja dengan santai, "Gak gimana2 tuh, lagi males aja." Sumpah, nyesel banget deh. Kenapa kok ya thesis saya itu gak dikerjakan gitu lho. Padahal udah dapet dosbing yang enak, tinggal interview (collecting data) doang, trus revise Literature Review. Kenapa gak dari dulu. Sekarang aku bingung setengah mati!!
Hari ini, temen yang sama2 dipindah ke dosbing udah selesai thesisnya. Seneng sih, liat temen udah selesai buatnya. Lha aku? Rasanya itu seperti dapet nilai E di semua mata kuliah. Pengen nangis, nyesel, marah, galau, sedih. Pokoknya gitu deh.
Sekarang, saya baru sadar kalau ternyata penundaan yang disengaja itu sangat merugikan diri sendiri. Saya kapok! Saya sudah gak mau lagi bermalas-malasan untuk hal yang tidak jelas! Pokoknya mulai sekarang, saya bakal bunuh habis-habisan si malas itu!!
Target untuk semester depan : LULUS!!! Amin.
lost
wait in this silent night
getting lost in my mind
think what you might think
feel what you have feel
the clock still run
waste their chance to live
one more fun
and we will alive
the time turn old
the earth has oath
burn into the ash
disappear with the trash
can you hold me my friends?
one more time to stay close
even we fall into the flame
second chance will always be there
Tuesday, 11 December 2012
Omong Kosong
Gelap, kosong, hampa.
Di manakah secercah cahaya kecil yang dulu menerangi jalan-jalanku di malam yang sunyi? Apa ini yang kau namai tersesat? Apa ini yang pernah kau alami di masa-masa suram itu? Apa ini cikal bakal dari kemunduran alami?
Masih terdiam dan bertanya dalam hati, aku merenung dan menyelami kegelapan ini. Berharap dan berusaha mencari-cari dari dalam kegelapan ini. Mencari secercah cahaya kecil yang bisa menuntunku keluar dari omong kosong ini.
Gelap dan kosong.
Kekosongan dalam pikiranku ini membuat sang gelap bersemayam dan merajuk untuk tinggal tetap. Menyerah? Tidak ada kata-kata itu dalam hidupku. Lalu ada apa dengan aku yang sekarang? Hanya berlalu mengikuti arus air yang tenang dan yang kadang deras. Di mana aku yang mencari-cari kebebasan itu? Sungguh, sangat tidak nyaman berada dalam kegelapan ini.
Gelap dan hampa.
Sudah pasti kamu mengerti sekali kehampaan ini. Apa sih yang tidak kamu tahu? Dulu aku hanya bisa membayangkan apa itu hampa. Namun sekarang, aku ada dalam ruangan yang memiliki kadar kehampaan yang hampir 100 %. Sama seperti kamu dahulu, yang pernah berada dalam ruangan ini. Aku masih menikmati kehampaan ini dalam diam. Menyelami, merenungi semua yang telah terjadi dan mencari-cari celah untuk melarikan diri dari ruang ini.
Gelap dan cahaya.
Dalam diamku aku menemukanmu. Secercah cahaya, namun jauh tak terengkuh. Langkahku tertatih mendatangimu. Kau hanya menuntun dan mengarahkanku. Usahaku untuk mencari celah dan mencari jalan keluar. Berhasil namun tidak sesuai apa yang aku kehendaki. Merangkak, berjalan, berlari, terjatuh, dan merangkak lagi. Cahaya itu tetap jauh tak terengkuh namun ada. Ora et Labora. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk keluar dari gelap ini, menemukanmu dan berakhir dalam cahaya.
Friday, 7 December 2012
Alam
sebutan malam untuk sang surya
sebutan siang untuk sang bulan
malam hujan mendung
siang terik sendu
hujan merindu abu
terik tak kunjung rindu
mendung lamun hilang
sendu lama datang
rindu sayap hati
rindu hadir kini
sebutan siang untuk sang bulan
malam hujan mendung
siang terik sendu
hujan merindu abu
terik tak kunjung rindu
mendung lamun hilang
sendu lama datang
rindu sayap hati
rindu hadir kini
Monday, 3 December 2012
the path
one by one
step by step
all in one
but one in debt
you and me
two and three
live in the same life
but don't get the key
do a lot of mistakes
turn around the rights
all we can do just wait
when the time turn right
Batu karang. Ya, kamu adalah sebongkah batu karang yang ada di Pantai Selatan. Tetap berdiri kokoh walau ombak datang menerjang. Entah mulai kapan dan sampai kapan kamu tetap akan menerima ombak yang dengan sengaja menghantam pendirianmu. Kagum? Tentu saja kami mengagumimu, bukan hanya aku saja. Semua orang yang melihatmu pasti akan terkagum.
Benar-benar sebuah keajaiban aku bisa mengenalmu. Bagaimana tidak? Aku hanya datang sesekali untuk melihatmu menantang ombak itu. Sungguh lucu, tapi memang kamu tidak bisa menghindari ombak2 itu. Kamu hanya menikmati hantaman demi hantaman yang datang. Pernah sekali waktu kamu bercerita tentang ombak2 itu. Kamu pernah bilang kalau mereka dipermainkan oleh sang angin. Dan anak2 ombak itu? Mereka hanyalah sekumpulan ombak2 kecil yang bermain mengiringi ke manapun ombak2 besar pergi. Angin yang kadang datang menerjangmu juga pernah berkata kalau kamu sangatlah berbeda, tetap berdiri kokoh dan tak pernah mengeluh waktu angin dan ombak berhamburan menghampirimu. Sangat menarik. Angin, ombak, dan kamu batu karang.
Akupun tak mau kalah. Saat menghampirimu, angin dan ombak datang menyapaku. Merekapun sangat senang ternyata ada yang mau mengenal mereka. Dengan segala dayaku, aku bertahan untuk tetap berada di samping kalian. Jiwaku masih ingin bersama kalian, namun ragaku tak bisa bertahan untuk berlama-lama. Aku tak ingin kalian mengkhawatirkan keadaanku yang menyedihkan ini. Sungguh, untuk yang ke sekian kalinya aku berharap untuk menjadi awan yang melindungi kalian di waktu siang atau mungkin menjadi bulan yang menyinari kalian di waktu malam yang pekat. Aku sungguh berharap bisa berada di samping kalian.
Maaf, mungkin aku hanyalah seekor burung madu yang tersesat saat melihatmu. Saat aku menemukan jalanku pulang, aku berjanji untuk kembali menemui kalian. Dan inilah aku sekarang, berkumpul bersama kalian lagi dengan wujud yang berbeda.
Abu.
Ya, aku sekarang sudah menjadi abu oleh api yang membakar hutan mangrove. Aku adalah abu yang diterbangkan oleh angin, menghampirimu dengan ombak yang berliku. Kamu sekarang menjadi bagian dari hidupku. Mungkin kamu tidak tahu kalau aku selalu ada di celah2 terkecil dalam karangmu. Mungkin sang ombakpun tidak menyadari kedatanganku yang dengan pasrah bersatu dengan butiran debu dan menyatu dengan asinnya air laut. Aku sangat bahagia dan bangga menjadi bagian dari kalian.
Maaf, mungkin ragaku tak lagi bersama kalian, namun jiwaku tetap ada dan abadi.
Mungkin kalian tidak menyadari adanya jiwaku ini, namun aku adalah ada.
Mungkin kalian tidak tahu omong kosong yang mengisi jiwaku yang penuh akan kalian.
Mungkin saja, dan mungkin saja suatu hari hujan akan menyadarkan kalian bahwa di sini, di dalam hidup kalian hanya ada kekosongan jiwa yang nampak. Tanpa raga tanpa wujud, hanya ada jiwa yang melayang-layang mengitari angin, ombak, dan engkau sang batu karang.
Ketika tiba saatnya nanti, dan ketika waktu memberi arti.
Benar-benar sebuah keajaiban aku bisa mengenalmu. Bagaimana tidak? Aku hanya datang sesekali untuk melihatmu menantang ombak itu. Sungguh lucu, tapi memang kamu tidak bisa menghindari ombak2 itu. Kamu hanya menikmati hantaman demi hantaman yang datang. Pernah sekali waktu kamu bercerita tentang ombak2 itu. Kamu pernah bilang kalau mereka dipermainkan oleh sang angin. Dan anak2 ombak itu? Mereka hanyalah sekumpulan ombak2 kecil yang bermain mengiringi ke manapun ombak2 besar pergi. Angin yang kadang datang menerjangmu juga pernah berkata kalau kamu sangatlah berbeda, tetap berdiri kokoh dan tak pernah mengeluh waktu angin dan ombak berhamburan menghampirimu. Sangat menarik. Angin, ombak, dan kamu batu karang.
Akupun tak mau kalah. Saat menghampirimu, angin dan ombak datang menyapaku. Merekapun sangat senang ternyata ada yang mau mengenal mereka. Dengan segala dayaku, aku bertahan untuk tetap berada di samping kalian. Jiwaku masih ingin bersama kalian, namun ragaku tak bisa bertahan untuk berlama-lama. Aku tak ingin kalian mengkhawatirkan keadaanku yang menyedihkan ini. Sungguh, untuk yang ke sekian kalinya aku berharap untuk menjadi awan yang melindungi kalian di waktu siang atau mungkin menjadi bulan yang menyinari kalian di waktu malam yang pekat. Aku sungguh berharap bisa berada di samping kalian.
Maaf, mungkin aku hanyalah seekor burung madu yang tersesat saat melihatmu. Saat aku menemukan jalanku pulang, aku berjanji untuk kembali menemui kalian. Dan inilah aku sekarang, berkumpul bersama kalian lagi dengan wujud yang berbeda.
Abu.
Ya, aku sekarang sudah menjadi abu oleh api yang membakar hutan mangrove. Aku adalah abu yang diterbangkan oleh angin, menghampirimu dengan ombak yang berliku. Kamu sekarang menjadi bagian dari hidupku. Mungkin kamu tidak tahu kalau aku selalu ada di celah2 terkecil dalam karangmu. Mungkin sang ombakpun tidak menyadari kedatanganku yang dengan pasrah bersatu dengan butiran debu dan menyatu dengan asinnya air laut. Aku sangat bahagia dan bangga menjadi bagian dari kalian.
Maaf, mungkin ragaku tak lagi bersama kalian, namun jiwaku tetap ada dan abadi.
Mungkin kalian tidak menyadari adanya jiwaku ini, namun aku adalah ada.
Mungkin kalian tidak tahu omong kosong yang mengisi jiwaku yang penuh akan kalian.
Mungkin saja, dan mungkin saja suatu hari hujan akan menyadarkan kalian bahwa di sini, di dalam hidup kalian hanya ada kekosongan jiwa yang nampak. Tanpa raga tanpa wujud, hanya ada jiwa yang melayang-layang mengitari angin, ombak, dan engkau sang batu karang.
Ketika tiba saatnya nanti, dan ketika waktu memberi arti.
Saturday, 1 December 2012
Dulu kita adalah suatu kesatuan yang mungkin tidak bisa dipisahkan. Entah sejak kapan hal itu terjadi, semuanya masih menjadi misteri untuk kita ketahui.
Dulu kita pernah bersama seperti dua ellipse yang menjadi satu, tak terpisahkan, tak termusnahkan. Entah mengapa sekarang kita seperti perempatan jalan yang mencari jalan dan tujuan masing2.
Mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini kalau Dia bisa membantu menyimpan rahasiaNya. Memang, dua ellipse ini tidaklah mudah untuk dibentuk dan diceraikan. Tapi, dalamnya lautan saja tak tampak oleh mata kita.
Berandai-andai sajalah agar kekuatan persatuan kita ini semakin kuat. Mungkin saat ini kita berada dalam persimpangan jalan yang berbeda-beda. Tapi pada akhirnya nanti, yakinlah bahwa kita akan ada pada suatu masa di mana kita akan bertemu lagi menjadi dua ellipse yang menjadi satu. Tak terpisahkan dan tak termusnahkan. Karena kita tahu bahwa pada dasarnya kita adalah satu kesatuan yang berawal dari banyak perbedaan. Karena perbedaan inilah yang membuat kita pada akhirnya memutuskan kita adalah dua ellips yang satu.
Seandainya saja waktu kebersamaan ini diperpanjang sebentar saja, mungkin kita akan sadar.
Subscribe to:
Comments (Atom)



