Batu karang. Ya, kamu adalah sebongkah batu karang yang ada di Pantai Selatan. Tetap berdiri kokoh walau ombak datang menerjang. Entah mulai kapan dan sampai kapan kamu tetap akan menerima ombak yang dengan sengaja menghantam pendirianmu. Kagum? Tentu saja kami mengagumimu, bukan hanya aku saja. Semua orang yang melihatmu pasti akan terkagum.
Benar-benar sebuah keajaiban aku bisa mengenalmu. Bagaimana tidak? Aku hanya datang sesekali untuk melihatmu menantang ombak itu. Sungguh lucu, tapi memang kamu tidak bisa menghindari ombak2 itu. Kamu hanya menikmati hantaman demi hantaman yang datang. Pernah sekali waktu kamu bercerita tentang ombak2 itu. Kamu pernah bilang kalau mereka dipermainkan oleh sang angin. Dan anak2 ombak itu? Mereka hanyalah sekumpulan ombak2 kecil yang bermain mengiringi ke manapun ombak2 besar pergi. Angin yang kadang datang menerjangmu juga pernah berkata kalau kamu sangatlah berbeda, tetap berdiri kokoh dan tak pernah mengeluh waktu angin dan ombak berhamburan menghampirimu. Sangat menarik. Angin, ombak, dan kamu batu karang.
Akupun tak mau kalah. Saat menghampirimu, angin dan ombak datang menyapaku. Merekapun sangat senang ternyata ada yang mau mengenal mereka. Dengan segala dayaku, aku bertahan untuk tetap berada di samping kalian. Jiwaku masih ingin bersama kalian, namun ragaku tak bisa bertahan untuk berlama-lama. Aku tak ingin kalian mengkhawatirkan keadaanku yang menyedihkan ini. Sungguh, untuk yang ke sekian kalinya aku berharap untuk menjadi awan yang melindungi kalian di waktu siang atau mungkin menjadi bulan yang menyinari kalian di waktu malam yang pekat. Aku sungguh berharap bisa berada di samping kalian.
Maaf, mungkin aku hanyalah seekor burung madu yang tersesat saat melihatmu. Saat aku menemukan jalanku pulang, aku berjanji untuk kembali menemui kalian. Dan inilah aku sekarang, berkumpul bersama kalian lagi dengan wujud yang berbeda.
Abu.
Ya, aku sekarang sudah menjadi abu oleh api yang membakar hutan mangrove. Aku adalah abu yang diterbangkan oleh angin, menghampirimu dengan ombak yang berliku. Kamu sekarang menjadi bagian dari hidupku. Mungkin kamu tidak tahu kalau aku selalu ada di celah2 terkecil dalam karangmu. Mungkin sang ombakpun tidak menyadari kedatanganku yang dengan pasrah bersatu dengan butiran debu dan menyatu dengan asinnya air laut. Aku sangat bahagia dan bangga menjadi bagian dari kalian.
Maaf, mungkin ragaku tak lagi bersama kalian, namun jiwaku tetap ada dan abadi.
Mungkin kalian tidak menyadari adanya jiwaku ini, namun aku adalah ada.
Mungkin kalian tidak tahu omong kosong yang mengisi jiwaku yang penuh akan kalian.
Mungkin saja, dan mungkin saja suatu hari hujan akan menyadarkan kalian bahwa di sini, di dalam hidup kalian hanya ada kekosongan jiwa yang nampak. Tanpa raga tanpa wujud, hanya ada jiwa yang melayang-layang mengitari angin, ombak, dan engkau sang batu karang.
Ketika tiba saatnya nanti, dan ketika waktu memberi arti.
No comments:
Post a Comment