Malam ini, rintik hujan masih terdengar di luar kostan. Tercium aroma tanah basah oleh hujan yang turun dari siang hari tadi. Sudah malam dan saya masih belum makan. Iseng-iseng saya mengirim sms ke adik kost, bertanya kalau saja dia juga belum makan. Sms balasan yang saya terima memang cukup membuat saya berpikir.
"Aku sudah makan kok mbak. Ini aku mau layat. Mbak sudah makan?"
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, siapa yang meninggal kok sampai-sampai asik kost saya itu layat malam-malam begini.
"Loh, siapa yang meninggal dek? Kok malam-malam gini layat? Mau layat sama siapa?"
"Istrinya pakdhe mbak, baru dikasih tau aku. Ini sama mbak Eshia."
Saya hanya tertegun, bingung untuk membalas smsnya itu. Akhirnya saya keluar kamar dan bertanya langsung dengan adik kost.
Pakdhe itu adalah seorang pelatih gamelan di kampus saya. Sebenarnya dia sebagai asisten atau bisa dibilang pelatih kedua. Dia adalah anak dari Mbah Guno, beliau yang melatih mahasiswa mahasiswi untuk belajar mmemainkan gamelan sebagai salah satu KBM (Kelompok Bakat Minat) di kampus saya. Saya belum pernah bertemu istrinya pakdhe, tapi dari yang saya dengar, semasa hidupnya almarhum adalah seorang istri yang sangat sabar dan setia. :)
Saya memutuskan untuk ikut melayat di rumah pakdhe. Rumah beliau cukup jauh dari kost saya, oleh karenanya saya naik motor ke sana. Masih dengan gerimis dan hawa dingin kota Salatiga di malam hari. Di depan gang sempit rumah pakdhe, Eshia sudah menunggu. Saya, Eshia dan Meilana (adik kost saya). Kami bertiga ikut di KBM karawitan kampus dan merasakan apa yang pakdhe rasakan. Kehilangan.
Yusuf, anak pakdhe yang juga dalang cilik itu masih duduk di bangku SMP. Dengan mata yang masih merah dan basah, dia menyambut kami bertiga. Mbah Guno yang terlihat tegar juga menyambut kami. Jujur, saya paling tidak mengerti apa yang harus dilakukan saat melayat. Saya hanya mendengar cerita dari tamu-tamu yang datang. Cerita dari Mbah Guno dan pakdhe tentang almarhum. Dilihat dari raut wajah yang masih letih karena tidak tidur selama dua hari, pakdhe kehilangan sosok pendamping hidup yang sangat dicintainya. Yusuf di dalam tangisan seorang anak juga menunjukkan kehilangan sosok ibu yang mengasihinya.
Saya tidak habis pikir, dia masih sangat muda untuk menerima kenyataan tentang kehilangan orang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Mungkin tidak bisa dipungkiri lagi, jika saya berada di posisinya mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Mungkin lebih gila lagi.
Kehilangan ini adalah suatu kehilangan yang manusiapun tidak bisa mencegahnya. Hanya Tuhan yang tahu. Mungkin saat ini kita berada di dalam masa-masa "kiamat", karena banyak orang yang mempercayai kiamat akan segera datang. But, who knows? Hanya Tuhan yang tahu nasib kita. Kita sebagai manusia hanya bisa melakukan apa yang Tuhan inginkan dan berusaha untuk bisa menjadi lebih baik dan lebih maju lagi.
Mungkin nasib memang sudah tertuliskan, namun dalam perjalanan hidup manusia, merekapun bisa menuliskan cerita mereka. Baik dan buruk nasib manusia tergantung manusia itu sendiri yang melakukannya. Namun, kematian adalah hal yang pasti. Semua orang pasti akan mengalaminya. Dan semua orang pasti juga akan merasa kehilangan. Hati kita harus siap dan ikhlas. Siap untuk dipanggil Tuhan dan ikhlas untuk merasakan kehilangan. Kita tidak tahu kapan, namun itu pasti akan terjadi. Jadi, bersiap-siaplah dalam penantian hidupmu ini. Karena suatu saat mungkin giliran kita yang harus merasakan itu semua.
Untuk pakdhe, Yusuf dan semua keluarga besar. Semoga kalian semua ikhlas untuk mengantarkan kepergian budhe menuju rumah yang kekal. Budhe sudah tidak sakit lagi sekarang. Yang tabah dan kuat ya. Gusti Yesus mberkahi.
No comments:
Post a Comment