<bgsound loop='infinite' src='music.mp3'></bgsound> Damaris Fajar: May 2013

Wednesday, 22 May 2013

Mantan segala mantan

Tadi sore, yah bisa dibilang agak malam ada pacarnya temenku yang tanya, "Mbak,gimana perasaanmu kalo ketemu sama mantannya pacarmu?" Jawabanku sih santai aja,"Biasa aja dek,emang kenapa?"
Dan dia mengeluarkan segala unek-uneknya saat dia ketemu mantan-mantannya pacarnya. Huahahhaha.. (aku gak tahan lihat ekspresinya) >.<

Jadi begini, yang namanya mantan itu adalah dulunya pernah menjadi satu dengan kita, tapi karena sesuatu hal akhirnya dunia menyadarkan kita untuk tidak bersama lagi. Ini menurut kamus yang baru saya buat satu menit yang lalu. Lanjut lagi soal mantan. Berbagai macam hal bisa saja terjadi saat kita ketemu mantan. Ada yang berasa males, marah, takut, kangen tiba-tiba, terus timbul rasa sayang lagi, terus balikan. Oke, yang terakhir tolong diabaikan. Hanya beberapa orang saja yang berhasil sampai ke titik mematikan tersebut. Nah, itu kalau kita yang ketemu mantan.

Lha kalau kita ketemu mantannya pacar kita? Apa yang kalian lakukan?
Dari mini research yang saya lakukan, ada beberapa hal yang akan oran lakukan ketika bertemu mantannya pacar:
1. Bersikap sinis
Ini yang dinamakan marah tanpa sebab. Tidak tahu alasan yang jelas mengapa tiba-tiba muncul rasa marah yang sangat tiba-tiba ketika melihat sosok seseorang yang kamu tahu tapi tidak kenal itu. Kita memang mengenal dari caeritanya pacar kamu, tapi sang mantan ini kan tidak kenal kamu. Take it easy aja. Jangan mudah terpancing dengan situasi.

2. Cemburu
Ini mungkin sering dialami ya. Cemburu sama mantannya pacar kamu. Kok bisa? Mungkin kamu melihat ada beberapa kelebihan yang si mantan punya, tapi kamu tidak punya. Dan kadang pacar kamu masih menganggap mantannya ini adalah sosok yang ikut berjasa dalam hidupnya. Ini yang kadang membuat kamu minder, dan akhirnya cemburu. Lihat sekarang, pacarmu pilih kamu kok bukan mantannya. Sudah pasti kan?

3. Menghindar
Begitu lihat ada mantannya pacar kamu lagi makan di kantin, tiba-tiba perut yang lagi lapar berat langsung gak nafsu makan dan pergi kalang kabut. Aneh ya? Tapi itulah, kamu takut si mantan ini membicarakan kamu dan teman-temannya si mantan ini membeda-bedakan seberapa persen cocoknya antara kamu dengan pacar kamu atau si mantan dengan pacar kamu. Cuek saja, urusan perut lebih penting kok daripada urusan orang-orang yang tidak kamu kenal tapi sok kenal kamu.

Itu beberapa hal yang mungkin pernah dialami ketika ketemu sama mantannya pacar. Pokoknya jangan sekali-kali melakukan hal yang bodoh di depan para mantan itu. Keep calm and stay cool. :)

diam, mendengar, dan kritis

Aku benci ketika ada seseorang yang tidak benar-benar kenal kamu seutuhnya menganggap kalau dia itu lebih mengenal kamu lebih dari kamu mengenal dirimu sendiri. Sok tau memang. Tapi ya mau gimana lagi. Semua orang punya hak untuk menyampaikan pendapat. Mau membantah, tapi kita tidak tau apa yang orang lain lihat dari kita. Mau meng-iya-kan, kok ya belum tentu benar. Terus, apa yang harus dilakukan?

Diam.

Sebuah solusi. Bukan membenarkan, tapi hanya menyarankan. Dengan diam, banyak mendengar, banyak menerima informasi yang beragam jenisnya. Diam itu emas, tapi diam yang aktif. Karena dalam diam, kita juga harus bisa berfikir kritis tentang apa yang kita dengarkan. Jangan sekali-kali mengeluarkan pendapat tanpa ada sumber yang belum diketahui kebenaran dan kejelasannya. Semakin lama kamu diam, banyak mendengar, dan berfikir kritis; semakin kamu tau apa yang dunia katakan tentang kamu.

Sudah, gitu aja.

Tuesday, 21 May 2013

kamu seperti bukan kamu


Teman. Aku tau kamu temanku, karena dari dulu kamu memang kuanggap sebagai temanku. Kita dekat, dan kedekatan kita sudah kuanggap seperti saudara. Bukan hanya kamu, tapi mereka juga sudah seperti saudaraku sendiri. Sebagian dari kami adalah anak rantau yang mencari ilmu kehidupan. Tidak hanya untuk mencari sumber ilmu saja, tapi untuk belajar bagaimana memahami prinsip kehidupan, persaudaraan, dan bermasyarakat di tempat asing. Sungguh, kami sebenarnya mempunyai tujuan yang sama. Sayang, kamu, aku, dan kita telah terkoyak oleh gengsi yang besar.
Sungguh temanku, kita semua ini adalah sama di mata Sang Khalik. Meskipun kita berbeda, kita adalah sama derajatnya, dan akan kembali dalam bentuk yang sama. Debu tanah. Aku tidak heran dengan sikapmu, aku cenderung mengasihanimu. Ketika yang lain merasa kamu sebagai pengacau suasana, aku tidak merasa begitu. Kamu hanyalah manusia yang perlu mencurahkan isi hatinya. Namun, di saat yang tepat. Barangkali, kamu terlalu bersemangat untuk meluapkan semua yang telah kamu alami selama ini di waktu dan tempat yang salah.
Aku sebagai temanmu, entah masih kau anggap sebagai apa aku ini, salut dengan sikapmu. Berani maju, berani berusaha, berani melakukan apa yang ingin kau lakukan meskipun hasilnya belum tentu memuaskan dan sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Aku iri dengan apa yang bisa kamu lakukan. Aku ingin mengadaptasai tingkah lakumu yang ini. Sudah, tapi nol. Aku masih mengusahakannya.
Kadang, kami juga meremehkanmu. Hanya ingin melihat sampai di mana pertahananmu ketika banyak orang meragukanmu. Tapi kamu masih tetap sama, temanku yang aku kenal.
Perubahan untuk menjadi yang lebih baik memang perlu, teman. Tapi karena perubahan yang ingin kamu capai ini membuatku merasa tak nyaman, kami tentu juga. Kamu ingin mencapai perubahan itu dengan mulus, tanpa hambatan. Tapi jika perubahan itu bagai pemaksaan dini, sungguh sangat disayangkan. Kami bahagia melihatmu bahagia, namun kasihan karena sepertinya dipaksakan.
Teman, kamu berubah. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri, tak seperti dulu. Kamu seperti bukan kamu, tapi seperti orang lain. Apa adanya, namun agak menipu diri sendiri. Apalah ini kamu yang sebenarnya atau bukan? Apa memang selama ini kami belum sangat mengenalmu, dan baru sekarang kami menuyadarinya? Atau memang seperti ini nyatanya saat kami mempunyai teman dan saudara yang mengalami perubahan.
Entah, temanku. Kami tak tau apa yang sudah terjadi denganmu. Kamu seperti ingin meluapkan semua yang ada di otakmu, tapi kamu takut. Seolah berada di antara kami, namun tidak jiwamu. Kamu seperti hantu, ada namun tak berjiwa. Sama seperti zombie, punya otak yang tak berfungsi. Seperti sehelai daun kering yang diombang-ambingkan oleh angin.
Mungkin, kamu akan tidak sengaja membaca ini. Sungguh, bukan maksudku untuk tidak menyampaikan secara langsung. Tapi lebih baik begini adanya, karena kamu sudah berubah. Tak lagi sama seperti yang kukenal.
Semoga kamu bahagia dengan perubahanmu. Kami selalu mendukungmu wahai teman dan saudara. 

Thursday, 9 May 2013

absurd









Entah, dingin malam atau dingin fajar
Hangat mentari pagi, namun juga dingin kabut malam
Berubah tak tentu arah, angin ombak badai menyatu padu membuat jalan
Langit melihat, bumi mendengar
Sayang, hati tak menangkap
Jauh dan dekat, 0 centimeter dan berpuluh-puluh meter
Tuli namun mendengar, bisu namun mata berbicara
Tak ada satupun penterjemah, hanya bisa meraba-raba
Tak tentu arah dan tak jelas
Hanya bisa menerka
Karena kamu, aku ada


Saturday, 4 May 2013

down and go


Down to the alley
Through the goldy
Streaming in the valley
Bullshitting in agony

Fell, fell down, get up, and fell again
You, they, them, and theirs
The light lighten up in rain
The darkness stood up in heirs

Borrowed thy sword
Knives became leaves
Thy face seemed bold
Mine flowed like bees