Di manakah secercah cahaya kecil yang dulu menerangi jalan-jalanku di malam yang sunyi? Apa ini yang kau namai tersesat? Apa ini yang pernah kau alami di masa-masa suram itu? Apa ini cikal bakal dari kemunduran alami?
Masih terdiam dan bertanya dalam hati, aku merenung dan menyelami kegelapan ini. Berharap dan berusaha mencari-cari dari dalam kegelapan ini. Mencari secercah cahaya kecil yang bisa menuntunku keluar dari omong kosong ini.
Gelap dan kosong.
Kekosongan dalam pikiranku ini membuat sang gelap bersemayam dan merajuk untuk tinggal tetap. Menyerah? Tidak ada kata-kata itu dalam hidupku. Lalu ada apa dengan aku yang sekarang? Hanya berlalu mengikuti arus air yang tenang dan yang kadang deras. Di mana aku yang mencari-cari kebebasan itu? Sungguh, sangat tidak nyaman berada dalam kegelapan ini.
Gelap dan hampa.
Sudah pasti kamu mengerti sekali kehampaan ini. Apa sih yang tidak kamu tahu? Dulu aku hanya bisa membayangkan apa itu hampa. Namun sekarang, aku ada dalam ruangan yang memiliki kadar kehampaan yang hampir 100 %. Sama seperti kamu dahulu, yang pernah berada dalam ruangan ini. Aku masih menikmati kehampaan ini dalam diam. Menyelami, merenungi semua yang telah terjadi dan mencari-cari celah untuk melarikan diri dari ruang ini.
Gelap dan cahaya.
Dalam diamku aku menemukanmu. Secercah cahaya, namun jauh tak terengkuh. Langkahku tertatih mendatangimu. Kau hanya menuntun dan mengarahkanku. Usahaku untuk mencari celah dan mencari jalan keluar. Berhasil namun tidak sesuai apa yang aku kehendaki. Merangkak, berjalan, berlari, terjatuh, dan merangkak lagi. Cahaya itu tetap jauh tak terengkuh namun ada. Ora et Labora. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk keluar dari gelap ini, menemukanmu dan berakhir dalam cahaya.
No comments:
Post a Comment