<bgsound loop='infinite' src='music.mp3'></bgsound> Damaris Fajar: di mana dia?

Saturday, 30 March 2013

di mana dia?

Sudah lama aku tidak mengingat masa-masa kelam itu. bahkan mungkin aku sidah tidak ingat lagi. Namun hari ini, kekelaman itu muncul lagi di benakku. Entah mulai kapan hal ini kembali datang menyerang kedamaian yang sudah lama menjadi kawanku. Lemah, tertunduk, tak berdaya. Semua hancur lebur menjadi satu kesatuan yang tak mungkin bisa dideskripsikan dengan kata-kata yang nyata. Absurd! Ya, memang dia absurd. Sungguh, aku tak mau mengingat-ingat semua itu lagi. Tapi mengapa selalu saja, di saat yang tidak diinginkan dia selalu muncul? Muncul dalam ketidakinginanku untuk mengingat sosoknya lagi. Muncul dalam kedamaian yang sudah kubangun selama hampir dua tahun ini.

Kupaksa lembaran-lembaran kelam itu untuk pergi satu demi satu dari dalam otakku. Kukeluarkan semua memori indah yang sudah kubangun selama ini. Lembaran kelam itu bagai dementor yang datang dengan tiba-tiba. Menyerap kekelaman dalam tubuhmu, membuat kamu tidak bisa berpikir dengan jernih. Memaksamu untuk mengingat lagi kehancuran yang pernah kau alami. Hanya dengan kebahagiaan yang real saja dia bisa hilang ditelan sang gelap. 

Tetap saja, aku tidak ingin lagi terjatuh dalam jurang yang hampir sama. Tempat ini lama, namun aku baru mengenalnya. Kutelusuri sampai ke semua penjuru kota, ke pelosok-pelosok daerah yang membuatku hampir tersesat. Kulangkahkan kakiku dengan kekhawatiran yang tidak patut untuk kukhawatirkan. Ketakutan yang semu ini muncul dengan tiba-tiba saat aku menemukan celah yang sama yang membuatku pernah jatuh ke jurang yang gelap itu. Bah! Semua ini omong kosong belaka! Tempat macam apa ini? Apa tempat seperti ini mampu membuatku jatuh lagi? Ini tidak mungkin bisa terjadi! 

Aku berpaling untuk menemukan jalan yang lain. Jalan untuk pulang ke tempat dengan kedamaian yang abadi. Kutinggalkan ranselku yang penuh dengan lembaran kekelaman itu. Kubawa perbekalan seperlunya. Langkahku tak lagi berat lagi, dan kuberlari menembus kabut ketidakjelasan itu. Mengejar cahaya yang temaram, dengan harapan untuk bertemu cahaya kedamaian abadi. Bekalku tak banyak, namun aku yakin dengan sedikit kedamaian yang kukumpulkan, aku mampu meraih kedamaian abadi itu. Omong kosong soal kehancuran!

No comments:

Post a Comment