<bgsound loop='infinite' src='music.mp3'></bgsound> Damaris Fajar

Friday, 23 November 2012

Kursi itu tak bernyawa, namun dia punya hati, sebentuk jiwa. Dia teronggok begitu saja di ujung halaman yang luas. Dulu dia pernah punya cerita, dulu sekali. Tapi apa sekarang cerita itu masih berlanjut? 
Dia tertunduk sendiri, mengingat semua yang sudah dia alami. Dia pernah disayang, diduduki, dibersihkan, dilempar, dibanting, diperbaiki, bahkan satu dari kakinya pernah diganti oleh sang pemiliknya. 
Dia juga punya teman, pernah, namun di mana mereka? Dia hanya terdiam, mereka yang terpaksa meninggalkan dia hanya karena dia berbeda. Mereka yang pergi, terbawa arus ramainya zaman yang tak kenal arti teman. Zaman yang menjadi semakin gila. Ya, mereka pergi begitu saja. Pergi dengan janji "mungkin kami akan kembali kawanku, berjagalah di sini, di suatu waktu kami akan mengunjungi engkau."
Mereka mungkin tidak tahu bahwa kepergian mereka membawa dampak yang sangat luar biasa di halaman yang luas itu. Mereka berpikir, "Ah, pasti dia akan menyusul kita. Tenang saja. Kalaupun tidak, pasti dia akan baik2 saja di sana."
Apakah itu benar? Tentu saja benar. Dia sekarang punya banyak teman baru. Angin dan bayangan pohon cemara besar yang menemaninya saat sang mentari dengan gagahnya memancarkan kekuatannya. Hangatnya kucing yang meringkuk lelap dari perburuannya di waktu purnama sepekan yang dingin. Dan lalang yang bernyanyi saat badai mengamuk. 
Dia masih saja tetap menunggu, setia namun pasti tak ada keraguan di dalam jiwanya yang sudah diamakan usia. Bukan berarti dia ingin meniggalkan kenangan yang ada bersama kepergian kawannya. Dia hanya memikirkan janji yang diucapkan kawannya itu. Dan diapun berjanji dalam hati, janji yang mungkin tak bisa untuk diingkari. 
Sesaat sang waktu mulai merujuknya untuk berpaling, namun dia tetap tak bergeming. Dia perpikir, berpikir dan berpikir. Dia bertanya pada angin, pohon cemara, kucing, dan para ilalang. Dia mendengar, menimbang dan memutuskan simpul akhir cerita dari kawan-kawannya yang pergi itu. 
Dan dia, setelah sekian lama menunggu, berpaling bersama sang waktu yang terus membimbingya hingga akhir dari perjalanan jiwanya.

No comments:

Post a Comment