Kala itu di
penghujung siang, Soda, seekor kunang kunang menanti senja yang tak kunjung
datang. Muncul pertanyaan di mana dia harus tetap menunggu atau terlelap di
tidur siangnya. Menanti untuknya adalah hal yang sudah tidak biasa lagi.
Mungkin sudah menjadi kebiasaannya, habit. Menanti yang tak kunjung datang pula
adalah suatu hal yang tidak baru buat dia. Bersabar itu mungkin, tapi sampai
kapan?
Soda juga perlu
istirahat dari perjalanan yang sudah dia lalui. Perjalanan yang panjang, yang
cukup membuat dia terlelap di siang hari. Sayap sayapnya letih, tak kuasa lagi
untuk merentang dan membawanya pergi, terbang menjauh dari tempat dia berasal. Tak
perlu tahu bagaimana dia bisa sampai di padang ilalang ini. Angin, langit dan
sang fajar membimbingnya hingga sampai ke savanna ini. Savanna yang luas untuk
kunang kunang sekecil dia. Dia sadar akan batas dari kemampuan yang dimilikinya.
Soda juga mengerti kekurangan dan kelebihan yang dia punya. Tapi apa guna itu
semua kalau dia sekarang menjadi seorang diri di padang savanna ini?
Mentari
masih menjulang tinggi si angkasa. Sinarnya yang terik seakan menakuti makhuk
makhluk malam, menjadikan mereka bersembunyi di padang yang luas ini. Mungkin
Soda tidak sendirian. Mungkin masih banyak kunang kunang yang lain yang
bersembunyi di padang savanna ini. Hanya saja sinar mentari menyembunyikan
mereka. Yang hanya bisa dia lakukan saat ini hanyalah menanti senja. Membiarkan
sang mentari tertidur untuk digantikan sang bulan. Mungkin itulah saat yang
tepat untuk keluar dari persembunyian ini. Tapi sampai kapan? Sinar mentari
yang terik ini membuat savanna ini bagai di gurun untuk makhluk sekecil Soda.
Terlelap di
siang ini dengan belaian lembut sang angin padang dan melewatkan senja datang
mungkin pilihan yang tepat untuk saat ini. Tapi jika senja itu datang dan teman
teman Soda yang lain keluar dari persembunyiannya di saat dia terlelap, mungkin
pilihan yang kurang tepat. Sulit memang, tapi memang tetap harus menanti.
Sembari
menikmati belaian lembut sang angin dan sisa sisa embun fajar, Soda melewati
siang itu dengan harapan yang besar. Menanti senja dan menyambut sinar bulan
yang terang oleh mentari. Hanya itu yang dipikirkannya.
Belaian angin
sore menyapa lembut di ujung sayap sayap yang letih. Senjapun datang dengan
senyummya yang indah. Langit kuning keemasan ikut menyambut harapan Soda. Dengan
gagahnya, dia merentangkan sayapnya, meliukkkan tubuhnya yang letih dan bersiap
untuk terbang di bawah sinar sang bulan. Untuk sesaat dia merasa ragu, tapi
setelah disambut oleh senja dan sinar bulan, diapun merasa yakin, perjalanan
ini tak akan terasa berat.
Sayappun
mulai terkembang, namun sayup sayup terdengar nyanyian burung kecil yang merdu menyadarkannya.
Soda, dalam
keheningan fajar terbangun dari tidurnya. Tertegun sesaat, dia mengerti akan
angan dan mimpinya itu. Ya, dia hanya perlu menanti senja jika itu yang dia
butuhkan untuk meneruskan perjalanan yang penuh uji ini.
No comments:
Post a Comment