<bgsound loop='infinite' src='music.mp3'></bgsound> Damaris Fajar: menanti senja

Friday, 8 June 2012

menanti senja


Kala itu di penghujung siang, Soda, seekor kunang kunang menanti senja yang tak kunjung datang. Muncul pertanyaan di mana dia harus tetap menunggu atau terlelap di tidur siangnya. Menanti untuknya adalah hal yang sudah tidak biasa lagi. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya, habit. Menanti yang tak kunjung datang pula adalah suatu hal yang tidak baru buat dia. Bersabar itu mungkin, tapi sampai kapan?

Soda juga perlu istirahat dari perjalanan yang sudah dia lalui. Perjalanan yang panjang, yang cukup membuat dia terlelap di siang hari. Sayap sayapnya letih, tak kuasa lagi untuk merentang dan membawanya pergi, terbang menjauh dari tempat dia berasal. Tak perlu tahu bagaimana dia bisa sampai di padang ilalang ini. Angin, langit dan sang fajar membimbingnya hingga sampai ke savanna ini. Savanna yang luas untuk kunang kunang sekecil dia. Dia sadar akan batas dari kemampuan yang dimilikinya. Soda juga mengerti kekurangan dan kelebihan yang dia punya. Tapi apa guna itu semua kalau dia sekarang menjadi seorang diri di padang savanna ini?

Mentari masih menjulang tinggi si angkasa. Sinarnya yang terik seakan menakuti makhuk makhluk malam, menjadikan mereka bersembunyi di padang yang luas ini. Mungkin Soda tidak sendirian. Mungkin masih banyak kunang kunang yang lain yang bersembunyi di padang savanna ini. Hanya saja sinar mentari menyembunyikan mereka. Yang hanya bisa dia lakukan saat ini hanyalah menanti senja. Membiarkan sang mentari tertidur untuk digantikan sang bulan. Mungkin itulah saat yang tepat untuk keluar dari persembunyian ini. Tapi sampai kapan? Sinar mentari yang terik ini membuat savanna ini bagai di gurun untuk makhluk sekecil Soda.

Terlelap di siang ini dengan belaian lembut sang angin padang dan melewatkan senja datang mungkin pilihan yang tepat untuk saat ini. Tapi jika senja itu datang dan teman teman Soda yang lain keluar dari persembunyiannya di saat dia terlelap, mungkin pilihan yang kurang tepat. Sulit memang, tapi memang tetap harus menanti.

Sembari menikmati belaian lembut sang angin dan sisa sisa embun fajar, Soda melewati siang itu dengan harapan yang besar. Menanti senja dan menyambut sinar bulan yang terang oleh mentari. Hanya itu yang dipikirkannya.

Belaian angin sore menyapa lembut di ujung sayap sayap yang letih. Senjapun datang dengan senyummya yang indah. Langit kuning keemasan ikut menyambut harapan Soda. Dengan gagahnya, dia merentangkan sayapnya, meliukkkan tubuhnya yang letih dan bersiap untuk terbang di bawah sinar sang bulan. Untuk sesaat dia merasa ragu, tapi setelah disambut oleh senja dan sinar bulan, diapun merasa yakin, perjalanan ini tak akan terasa berat.

Sayappun mulai terkembang, namun sayup sayup terdengar nyanyian burung kecil yang merdu menyadarkannya.

Soda, dalam keheningan fajar terbangun dari tidurnya. Tertegun sesaat, dia mengerti akan angan dan mimpinya itu. Ya, dia hanya perlu menanti senja jika itu yang dia butuhkan untuk meneruskan perjalanan yang penuh uji ini.

No comments:

Post a Comment